MELEPAS BELENGGU DENGAN TAQWA (IDUL FITRI 1434 H)

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1434 H MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN

Belajar dari Kisah Nasruddin Hoja dan Keledai Pemberian Timur Lenk

“Pendekatan ala Nasruddin Hoja kali ini memang benar-benar menjadi inspirasi bagi kita semua"

THE POWER OF HIJRAH

Dengan semangat, dan nilai-nilai serta hikmah hijrah kita harus berpindah dari seperti bui menjadi gelombang dan cinta dunia menjadi Cinta Akherat, takut mati menjadi rindu kematian akan Jihad. Sehingga Persatuan Muslim dan kemardekaan Palestina dapat terwujud (jml)

SEANDAINYA IRAN DI GEMPUR

"Semoga saja perang tidak terjadi sebuah harga yang sangat mahal hanya untuk menjawab posisi dan konspirasi"

ISRAEL : PERGULATAN ANTARA ASIMILASI DAN MEMBANGUN SEBUAH NEGARA

"Hingga sekarang memasuki tanggal 14 Mei 2012, 64 tahun kemardekaan Israel dan 64 tahun pula bangsa Palestina terombang ambing dalam pusaaran kebiadaban dan ketidak pastian"

Minggu, 31 Maret 2013

Siapakah orang yang bijaksana?


Ilustrasi : Sitenar.com

Oleh: M. Jamil
Siapakah orang yang bijaksana? apakah  Seorang yang memiliki atau menguasai ilmu pengetahuan  secara ilmiah, empiris dan teoritis? Atau mungkin seorang yang memiliki kedudukan serta kekayaan harta dunia? Atau seorang yang pandai berbicara dengan kata-kata yang susah di mengerti?. Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mungkin ada baiknya kita melihat arti kata bijaksana itu sendiri di dalam kamus bahasa Indonesia yang memiliki beberapa definisi di antaranya :
(1)      Selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya); arif; tajam pikiran;
(2)      Pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dsb) apabila menghadapi kesulitan
Berbeda dengan definisi  kamus Bahasa Indonesia seorang filosof yunani, Socrates (470-399 SM)  mengajarkan kepada kita bahwa orang yang bijaksana adalah orang yang mengetahui dirinya tidak mengetahu apa-apa. Lalu mengapa orang yang tidak mengetahui apa-apa  justru dapat menempati posisi sebagai orang bijaksana?. Bukankah dengan tidak mengetahui apa-apa ia tidak dapat melakukan apa-apa? Memang bukan filosof namanya jika sebuah pernyataannya tidak mengandung syarat dan makna. Tapi ada baiknya terlebih dahulu kita memahami aspek sosiologis masyarakat Anthena pada waktu itu yang tak lain tempat kelahiran hingga  kematian Socrates.
Anthena  pasca 450 SM merupakan pusat kebudayaan, Titik focus kajian filsafat pun mulai bergeser dari objek hakikat alam semesta bergeser kearah manusia itu sendiri salah satunya  dalam konteks kedudukannya dalam masyarakat. Dari sisi ini muncul istilah demokrasi, dan tentunya demokrasi memerlukan individu-individu yang memilliki kemampuan untuk berdemokrasi. Kemampuan untuk berdemokrasi memerlukan mekanisme ilmiah agar masyarakat memiliki kepercayaan terhadap individu tertentu. Nah di jaman Socrates untuk menyakinkan seorang dapat di tempuh dengan cara menguasai seni berpidato, cara ini mirip dengan yang di lakukan masyarakat arab di zaman jahiliah hanya saja tujuan mereka  tak lain merupakan ajang memperlihatkan kebangggan bagi masing-masing clan atau suku. Kesempatan seperti ini  tidak di sia-siakan oleh sekelompok orang yang terdiri dari guru dan filsof serta menamakan diri mereka kaum sophis. Sophis memiliki makna seorang yang bijaksana dan berpengetahuan. Namun sayang Kaum sophis menjajakan kemampuan sebagai mata pencarian dengan dalih mendidik warga negara, metode  yang di gunakan pun lebih bersifat satu arah dan terkesan menggurui. Hal inilah yang menimbulkan kritkan dari Socrates terhadap kaum sophis, namun kritikan Socrates terhadap kaum sophis tidak bersifat frontal. Kritkan Socrates  ditempuh dengan ungkapannya yang menyatakan bahwa ilmunya itu seperti seorang bidan, tugasnya hanya membantu orang-orang melahirkan wawasan yang benar, sebab pemahaman sejati harus timbul dari dalam diri sendiri. Socrates menjadi ‘’seorang bidan” dengan menempuh cara berdiskusi dengan lawan bicaranya bahkan dia memberi kesan selalu ingin belajar dari orang yang di ajaknya berbicara bukan menggurui.
Dari sini pula lah Socrates mengungkapkan sebuah kalimat yang cukup masyur ‘’orang yang bijaksana adalah orang yang mengetahui dirinya tidak tau ”. kali ini Socrates benar-benar mendidik kita  dengan tidak tau apa-apa menjadikan kita untuk senantiasa, membaca, dan mengkaji hal ini sesuai dengan perintah atau wahyu pertama yang turunkan oleh Allah swt kepada malaikat Jibril kepada Rasulullah, Nabi Muhammad SAW. Dari, membaca dan mengkaji mengantarkan kepada kita kepada sikap rendah diri karena sedikit sekali yang kita ketahui dan bahkan kita menemukan suatu hal ketidaktahuan kita dan ia bisa hilang sedikit demi sedikit karena penyakit lupa. Menjadi bijaksana solusi praktis mengarungi lautan kehidupan. Allahu alam