Minggu, 21 Oktober 2012

KEDAI MITOS



(Ilustrasi: Kabarnesia.com)

“Masa depan kita salah satunya tergantung dari keputusan mengenai sebuah kata yaitu Mitos.  Mitos mampu mengarahkan kepada perbuatan syirik, menghambat kemajuan, bahkan memundurkan peradaban, lawanlah mitos salah satunya dengan Ilmu Pengetahuan berupa Penelitian Ilmiah, Teori dengan pencernaan akal dan logika, “

Oleh: M. Jamil
kedai tua itu masih tetap terlihat kokoh, berdiri pada tahun 1970 an, berwarna hijau tua dengan pintu kayu berjejer tegak bersambung, dinding-dindingnya masih menggunakan papan kayu,  letaknya cukup strategis  yaitu  tepat di bibir jalan poros menuju sebuah bandara. kedai tua ini seperti sebuah toko serba ada dari peralatan dapur, peralatan untuk fardu kifayah, peralatan kecantikan, peralatan memancing, dan lain sebagainya, semua ada disini.  Sederet mini market mencoba menggempur disisi kanannya, kedai tua itu seolah sama sekali tidak merasakan kehadiran mereka.
Pemilik warung tua itu tak lain seorang nenek tua, suaminya telah lama meninggal, di karunia dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, ketiga nya  telah lama menikah dan hidup berpisah jauh dengan sang ibu.  Tubuh sang nenek masih tetap tegap walau umur nya sudah memasuki usia 65 tahun, pandangan matanya  masih tajam, pendengarannya masih baik, dan ingatanya masih cukup tangguh.
Di Pagi buta sang nenek sudah membuka kedainya, sang nenek berasumsi di pagi buta itulah malaikat turun ke bumi membagikan rizki dari Ilahi dan moment ini tak akan di sia-siakan oleh sang nenek.
Benar saja, sekitar pukul 6 pagi  sang nenek kedatangan seorang calon pembeli yang sedang kebingungan mencari  peralatan untuk menempatkan ari-ari bayi. Kontan saja nenek dengan sigap mencari dan mengeluarkan segala peralatan yang di butuhkan mulai dari tempat ari-ari berupa sejenis pot kecil dari tanah, kemiri yang masih berkulit, kain putih, telur ayam kampung dan lain sebagainya. Walhasil, setelah lengkap nenek pun berkata;
inilah perlengkapannya nak!, Kedai boleh tua, tapi kelengkapannya boleh lawan! ” ungkap sang nenek dengan tersenyum puas.
ya nek terima kasih!”balas sang pembeli.
Menjelang sore, sebuah motor bebek berwarna hitam berhenti tepat di depan kedai sang nenek. Sang pemilik motor tak lain seorang pemuda dengan mengenakan baju kaos oblong berwarna hitam bertulis ‘’Save Palestine” di belakangnya . Muhammad Iqra’ nama pemuda ini, seorang sosok pemuda yang cukup dikenal di daerahnya, Mahasiswa di perguruan tinggi Islam negeri, seorang sosok pengagum tokoh pembaru Islam Jamal Afgani dan Muhammad Abduh dari sinilah mengantar ia menjadi seorang yang rasional dalam beragama. Jarak antara rumahnya dengan kedai tua tidak begitu jauh kira-kira 400 meter.
Sang nenek sudah mendeteksi kedatangan Iqra’,  nama panggilan akrabnya. Nenek dengan sigap berdiri dari kursi empuknya, memasang senyum manis dan bertanya apa yang akan di beli Iqra’.  
‘’mau beli apa Muhammad Iqra’ anak pak Abdullah?”canda nenek sambil menyebut nama ayah Iqra’
‘’ini nek, mau mencari perlengkapan memancing besok sore bersama kawan-kawan di sungai kebetulan esok hari libur!” balas Iqra’
‘’apa saja perlengkapan memancingnya Iqra?” sambut sang nenek
‘’sepertinya hanya beberapa mata kail nek” balas Iqra
Secara cepat nenek memalingkan wajahnya ke arah sebelah kanan, matanya tertuju ke arah jam dinding besar di atas lemari. Raut muka nenek tiba-tiba berubah, senyum manis sang nenek seolah hilang dan tersembunyi di balik awan kecemasan.  ia mencoba tampak  ramah dan  berkata lemah lembut kepada sang Iqra’ bahwa mata kail yang ia cari sudah habis. Tidak percaya dengan jawaban sang nenek, Iqra’  tampak kasak kusuk melihat ke kiri dan kanan mencari apa yang ia cari. Tiba-tiba tatapan bola mata Iqra’  fokus kedalam sebuah lemari kaca, matanya pun berhasil menemukan sebuah kotak kecil, mirip sebuah kotak korek api berwarna kuning bergambar mata kail.
‘’nah, ini mata pancing nya nek!”tegas Iqra’;
‘’maaf Iqra’, mata pancing itu tidak di jual!” balas Sang Nenek dengan nada gugup;
‘’kalau tidak di jual, mengapa diperlihatkan dan disimpan di lemari kaca nek!”lanjut Iqra’;
“Iqra’, sekali lagi nenek mohon maaf,  ini tidak di jual!” tegas nenek;
“mengapa demikian nek? balas Iqra’;
‘’sekali lagi maaf ya Iqra’, saya tidak menjual mata kail tersebut !”hardik sang nenek;
‘’bagi saya hal ini sangat aneh dan membingungkan nek!”balas Iqra’ kesal;
‘’besok pagi-pagi saja Iqra’, lagi pula kamu bersama teman-temanmu mememancing di sore hari kan jadi masih sempat kesini lagi besok pagi! Nenek sudah mau menutup kedai!” bujuk sang nenek
Mendengar rayuan sang nenek, Iqra’ tampak pasrah dan kesal, membalikkan badannya yang tambun dan melangkah perlahan meninggal kan kedai tua, menuju, menaiki dan menjalankan motor bebeknnya.   Saat ia menjalankan motornya, ia bertanya-bertanya dalam hati mengapa sang nenek tidak menjual mata kail tersebut. ia  mencoba menerka penyebab dari ikhwal tersebut.
‘’hmm, mungkin saja nenek tersebut lagi malas dan segera ingin menutup kedainya sehinggga kedatangan ku, hal yang tidak diinginkannya, atau nenek tersebut sudah bosan dengan uang, yang jelas besok pagi aku akan kembali ke kedai itu.” Oceh Iqra’ dalam hati;
Berbeda dengan Iqra’, sang nenek tampak duduk terdiam, menyandarkan punggung nya di kursi malasnya. Tak terasa sang mentari pun mulai masuk keperabuannya, sang nenek pun dengan lekas menutup kedai dengan mengangkat pintu-pintu kayu dan memasangnya sesuai urutan nomor yang tertera.
Pagi sekitar pukul 8 pagi bertepatan dengan hari minggu Muhammad Iqra’ pergi keluar rumah menuju kedai menagih janji sang nenek untuk menjual mata kail nya.
‘’kali ini tidak ada alasan bagi sang nenek untuk tidak menjual mata kailnya dan aku akan mencari tau mengapa ia tidak mau menjual mata kail tersebut kemarin?tanya Iqra’ dalam hati”
Begitu ia tiba tampak dari dalam kedai sang nenek duduk manis, seolah menanti kedatangannya dan siap melayani siapa pun yang datang untuk membeli.
‘’Assalamualaikum nek, apa kabar?”ungkap Iqra’”
‘’Alhamdulillah baik, Muhammad Iqra Putra Abdullah bagaimana?bagaimana kabar ayah mu, apakah ia masih mengajar di madrasah?tanya sang nenek”
‘’alhamdullillah baik juga nenek, ayah masih mengajar di madrasah nek! balas Iqra’”
‘’sudah lama ayah mu tidak berkunjung ke kedai nenek, jika berkunjung ia selalu bercerita kepada nenek sejarah Islam dan tokoh-tokoh hebat Muslim yang menemukan berbagai penemuan ilmiah” lanjut sang nenek”
‘’begitulah ayah nek, ia sangat mencintai ilmu pengetahuan, menurutnya umat muslim saat ini pada posisi mundur, mengalami minder dengan bangsa barat nek! balas Iqra”
‘’mengapa demikian?Tanya nenek”
“saya pernah menanyai ayah demikian, ia menjawab terdapat berbagai penyebab namun yang hanya saya ingat ia menyatakan umat muslim tidak begitu berminat mengkaji ilmu pengetahuan  dan berbagai hal secara ilmiah yang dianggap bukan wilayah agama dan lebih parah lagi  tertipu oleh mitos atau takhayul, secara sempit mitos atau takhayul diartikan segala sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah nek, nah menurut ayah celakanya  mitos atau takhayul ini terkadang  bisa membuat manusia ke arah syirik merupakan salah satu dosa besar yang tidak diampuni oleh Allah kecuali jika sang mahluk tersebut bertobat!jawab Iqra”
‘’hehehe, kamu sangat mirip dengan ayah mu dari gerak dan gaya bahasa nya jika bercerita kepada nenek, terkadang nenek mengerti dan terkadang juga tidak begitu mengerti karena bahasanya sulit nenek pahami, maklum nenek sudah tua dan  tak jarang nenek bertanya hingga nenek mengerti, jika mendengar perkataan mu nenek sedikit mengerti karena memang kita sebagai orang muslim harus menghindari yang namanya syirik!ungkap nenek yakin”
‘’begitu ya nek, oh iya mata kailnya berapa satu buah nek?tanya Iqra”
‘’sebentar nenek ambilkan, satu buah harganya lima ratus rupiah! Iqra mau beli berapa?balas nenek”
‘’empat buah saja nek?”lanjut Iqra sambil menyerahkan uang kertas kepada nenek”
‘’ini mata kail nya sudah nenek bungkus didalam  kertas!jawab nenek sambil menyerahkannya dan mengambil uang kertas dari tangan Iqra”
‘’oh iya nek, kalau boleh tau mengapa kenapa nenek kemarin sore tidak mau menjual mata kailnya kepada saya?tanya Iqra dengan rasa ingin tau”
‘’tidak, ada apa-apa nak, kebetulan saja nenek sudah capek dan ingin cepat menutup warung!jawab nenek dengan tenang”
‘’tapi saya liat setelah kepergian saya, nenek masih melayani beberapa pembeli?lanjut Iqra”
‘’sudahlah nak lupakan saja kejadian kemarin, yang penting nenek telah menjualnya kepada mu!balas nenek dengan raut wajah sedikit berubah”
‘’ya sudahlah nek terimakasih atas mata kailnya, maaf kalau pertanyaan saya menganggu nenek!ungkap Iqra dengan perasaan bersalah”
‘’tidak apa-apa nak!balas nenek”
‘’kalau begitu terimakasih nek, saya permisi dulu”balas Iqra”
‘’sama-sama  hati-hati di jalan nak!lanjut nenek”
Iqra pun meninggalkan kedai sang nenek menuju rumah kediamannya dengan perasaan tidak puas dengan jawaban sang nenek perihal penolakannya untuk menjual mata kailnya kemarin sore. Iqra mendeteksi ada suatu hal yang disembunyikan sang nenek di balik penolakan tersebut. Ia pun tak sabar ingin mengutarakan perihal tersebut kepada ayahnya yang tak lain salah satu teman curhat nenek.  sesampai di rumah ia melihat ayahnya sedang asyik menonton berita di televisi, sebuah rutinitas resmi dihari libur. Iqra’ pun tak sabar menyampaikan pengalaman nya di kedai tua bersama nenek kepada  ayahnya.
‘’ habis dari mana nak?sapa ayah terlebih dahulu kepada Iqra’’’
‘’dari kedai nenek yah, membeli mata kail untuk memancing disungai sore ini bersama teman seperti yang Iqra’ sampaikan kepada ayah kemarin!jawab Iqra’”
‘’oh ayah kira kamu tidak jadi memancing bersama teman mu nak!, biasanya kamu lebih tertarik dengan rutinitas lain!lanjut ayah dengan perasaan tidak yakin”
‘’Insya Allah jadi dong yah! oh iya yah nenek penjaga kedai menayakan ayah yang sudah lama tidak berkunjung?ungkap Iqra”
‘’oh begitu, memang sudah hampir dua bulan ayah tidak pernah mampir nak!Bagaimana keadaan nenek?tanya  ayah”
‘’sehat-sehaat saja yah! Hanya saja Iqra melihat ada kejanggalan dengan sikap nenek yang kemarin sore menolak menjual mata kailnya kepada Iqra’  yah,  jadi membuat Iqra harus mengikuti perintah nenek untuk datang kembali ke kedainya pada pagi hari!ungkap Iqra”
‘’mungkin ia lagi capek nak, ingin beristirahat sejenak!jawab ayah”
‘’tiiidak yah, sepertinya ada suatu hal yang disembunyikan, hal tersebut tampak dari raut wajah nenek yang sangat gugup mendengar Iqra bermaksud ingin membeli mata kailnya!jawab Iqra”
‘’hmmm, apa iya nak?tanya ayah ragu”
‘’iya yah, mungkin ada baiknya ayah bersilahturahmi dan mencari tau  ikhwal mata kail tersebut sore nanti yah! Balas Iqra”
Ibu Iqra muncul dari ruang dapur menuju ruang tengah membawakan suaminya secangkir kopi dan cake cokelat yang baru ia buat merupakan bagian dari menu sarapan di hari libur. Ia melihat suami dan anaknya bercakap-cakap dengan serius.
‘’serius amat, ayah dan iqra membicarakan tentang apa?tanya ibu kepada ayah dan Iqra’ sambil meletakan kopi dan cake cokelat di sebuah meja bundar di depan ayah”
‘’wah kue kesukaan ayah ni, terimakasih ya bu! ini bu, anak kita bercerita tentang nenek pemilik kedai yang dianggap nya aneh tidak mau menjual mata kailnya kemarin sore!balas ayah”
‘’iya bu menurut Iqra aneh!sambung Iqra”
‘’menurut ibu tidak ada yang aneh nak, bisa saja nenek sudah capek!balas Ibu”
‘’tapi bu mengapa setelah kepergian Iqra’ dari kedai tampak ia masih melayani pembeli lain!jawab Iqra”
‘’kita harus berfikir positif nak!tegas Ibu”
‘’baiklah, sore ini akan menemui nenek, untuk bersilahturahmi karena Rasullullah mengajarkan kepada kita bahwa silahturahmi dapat memanjang umur dan memudahkan rizki. Dan mencari tau apa yang telah disampaikan oleh Iqra’!ujar  ayah”
 ‘’lebih baik memang begitu yah,!jawab ibu setuju”
‘’apakah Iqra boleh ikut ayah! Tanya Iqra”
‘’sebaiknya tidak nak,lagi pula bukankah Iqra’ hendak memancing bersama teman-teman  biar ayah saja yang datang sendiri besok sore!”balas ayah sambil meminum kopi panasnya dan memakan  cake cokelat buatan istri tercinta”
‘’oh iya Iqra’ lupa, oh iya bu kue cake cokelat untuk Iqra kok tidak ada? tanya Iqra kepada ibu”
‘’masih banyak nak, sebentar ibu ambilkan di dapur!jawab ibu”
‘’tidak usah bu, biar iqra’ yang mengambil nya di dapur!balas Iqra sambil belari kecil kearah dapur’

Selepas sholat ashar di mesjid, ayah tidak langsung pulang kerumah, Ia menunaikan janjinya bersilahturahmi dengan berjalan kaki  menuju ke kedai nenek. Tampak sang nenek sedang sibuk melayani para pembeli. Begitu ayah tiba di kedai nenek ia tidak langsung menyapa nenek,  Ayah  terlebuh dahulu membiarkan para pembeli meninggalkan kedai satu persatu, setelah itu barulah ia menghampiri nenek.
‘’assalamualaikum nek!ujar ayah”
‘waalaikum salam, eh Abdullah  sudah lama engkau tidak kemari, silahkan duduk!bagaimana kabarnya?!balas nenek dengan senang melihat kedatangan ayah”
‘’alhamdulillah baik!bagaimana dengan nenek?balas ayah”
‘’baik juga Abdullah, sebentar biar nenek buatkan secangkir kopi biar ngobrolnya semakin asyik!ujar nenek”
‘’sudah nek, di rumah saya baru saja habis minum kopi!ujar ayah”
‘’lain dirumah lain disini Abdullah!balas nenek”
‘’baiklah nek, terimakasih!ujar  ayah”
Nenek masuk kedalam rumah namun kira-kira 15 menit ia kembali ke kedai dengan tangan kanannya memegang piring kecil yang di atas nya terletak sebuah gelas keramik berisi kopi panas dan tangan kirinya memegang piring besar berisi beberapa potong roti.
‘’wah jadi merepotkan nek!ujar ayah”
‘’tidak merepotkan, biasa saja!silahkan di minum dan di makan Kopi dan rotinya,  Abdullah!balas nenek sambil meletakan kopi panas dan piring berisi roti di meja tepat di hadapan ayah”
“terima kasih nek!ujaar ayah sambil menghirup kopi panas dan mengambil roti”
 Setelah lama berbincang-bincang bersama nenek ayah baru ingat dengan ikhwal yang disampaikan oleh Iqra mengenai mata kail tadi pagi. Ayah pun berpura-pura hendak membeli mata kail.
‘’iya nek, apa nenek ada menjual mata kail nek!’’ujar ayah
‘’bukankah anak mu tadi pagi baru saja membeli Abdullah?balas nenek”
‘’Iqra membeli mata kail untuk keperluan memancing bersama temannya sore ini, saya juga kalau ada waktu luang ingin memancing nek!ujar ayah”
‘’sudahlah engkau gunakan mata kail yang dibelikan oleh anak mu saja Abdullah jadi engkau tidak mengeluarkan biaya!!balas nenek”
Ayah sedikit cuuriga tentang gelagat nenek, dalam hati ayah terdapat hal yang disembunyikan oleh nenek. Sambil meminum jamuan yang telah disiapkan ayah melihat dalam lemari kaca di depannya sebuah kotak kuning berlogo mata kail. Ayah kemudian berdiri dan langsung mengambil kotak kuning berisi mata kail dari dalam lemari kaca.
‘’saya beli ya nek satu kotak mata kail ini!ujar ayah”
‘’kamu bercanda Abdullah?tanya nenek sedikit gugup”
‘’serius lah nek, saya akan membelinya!jawab Ayah”
‘’sudahlah Abdullah besok pagi saja engkau kemari, nenek sudah capek!bujuk nenek”
‘’besok saya tidak punya waktu luang sepereti ini nek!jadi berapa harganya nek?tanya ayah sambil mengeluarkan dompet”
Melihat perilaku ayah nenek sangat gugup, strategi capek seperti yang ia gunakan kepada Iqra’ tampaknya sudah usang dan perlu  strategi baru untuk mencegah ayah membeli mata kail yang sudah berada dalam gengamannya.  Sebelum nenek mengeluarkan strategi baru ayah langsung berkata  kepada nenek
‘’sebetulnya saya tidak memerlukan mata kail ini nek, hanya saja Iqra bercerita kepada saya tentang nenek yang menolak menjual mata kail tersebut kepadanya kemarin sore! Terus terang saja nek, saya ingin mengetahui mengapa nenek melakukan itu?ujar ayah”
‘’tidak ada apa-apa Abdullah, kebetulan saja hal ini terjadi!balas nenek dengan nada rendah”
‘’maaf kan saya nek, saya tidak ingin dan takut perilaku nenek tidak sesuai dengan tuntunan agama!ungkap ayah sambil berdiri meletakan kotak mata kail ketempat semula”
 Nenek sempat terdiam beberapa saat, ia tampak menghela nafas dan menyandarkan punggung nya di kursi. Dan akhirnya ia berkata kepada ayah;
‘’saya sangat berterima kasih kepada mu Abdullah telah menasehati nenek, nenek hanya menjalankan petuah dari orangtua nenek secara turun menurun!ujar nenek”
‘’petuah apa itu nek?balas ayah dengan rasa ingin tau”
‘’petuah menyangkut benda-benda yang tidak boleh diperjual belikan dari petang hingga malam hari salah satunya mata pancing dan jarum jahit jika di langgar maka akan berdampak pada si penjual!ujar nenek”
‘’apa dampaknya nek!balas ayah”
“Dampaknya si penjual akan cepat tua Abdullah, selama membuka kedai ini dari  tahun 1970 an nenek tidak pernah melanggar petuah tersebut!ujar nenek”
‘’tua itu pasti nek, bersyukur lah kita Kepada Allah yang di beri nikmat berupa umur  hingga tua, apakah nenek yakin kedua benda seperti jarum dan mata kail memiliki kekuatan menjadikan seorang cepat tua hanya dengan menjualnya pada waktu sore atau hingga malam hari?tanya ayah kepada nenek dengan nada lemah lembut”
‘’yakin tidak yakin Abdullah itulah petuah dari orang tua nenek secara turun temurun!jawab nenek”
‘’mohon maaf nek, Rasulullah pernah memperingatkan kita untuk menjauhi dosa syirik karena merupakan dosa besar!ujar ayah”
‘’mengapa pula hal tersebut ada kaitannya dengan syirik Abdullah?tanya nenek heran”
‘’tentu saja nek selama kita menganggap sesuatu mahluk ciptaan Allah seperti jarum dan benang memiliki kekuatan menjadikan sesuatu maupun tidak dan menyingkirkan peran Allah maka itulah salah satu kategori  syirik. Agar kita tidak terjerumus, Rasulullah menyuruh kita menjadikan Al Qur’an dan Sunahnya sebagai titik acuan agar tidak tersesat selama-lamanya, sebagai contoh adakah tertulis dalam Al-Qur’an dan Sunah melarang  hal tersebut?jelas tidak ada nek!jawab ayah”
‘’sudahlah Abdullah hari sudah mulai gelap, badan nenek sudah lelah ingin beristirahat!ujar nenek isyarat untuk menutup warung”
‘’sekali lagi mohon maaf nek, tiada maksud lain selain hanya untuk mengingatkan agar kita terhindar dari perbuatan yang tidak sesuai dari tuntunan agama dan apa yang saya sampaikan patut nenek renungkan! Baiklah nek saya permisi pulang! asalamuaikum!balas ayah”
‘’walaikum salam!balas nenek dengan singkat dengan raut wajah yang sedikit berubah”
Ayah pun pergi melangkah kan kaki meninggal kedai nenek menuju rumah. Sesampai di rumah tampak Iqra’ dan ibu sudah menunggu duduk di teras menanti kedatangan ayah.
‘’assalamualaikum!ujar ayah”
‘’wa a’laikumsalam!balas ibu dan Iqra’”
‘’bagaimana yah hasilnya dari tempat nenek?ujar Iqra”
‘’lebih baik kita bicarakan hal ini di dalam rumah saja nak!balas ayah”
Mereka bertiga memasuki rumah dan duduk di ruang tengah dan duduk di sofa searah jarum jam dari ayah, ibu dan Iqra’.
‘’apa benar yah ada suatu hal yang disembunyikan oleh nenek mengenai ia tidak mau menjual mata kail pada waktu sore?tanya Iqra sebagai pembuka komunikasi”
‘’apa yang kamu curigai benar nak, nenek menjalankan petuah dari orang tuanya untuk tidak menjual mata kail dan jarum jahit pada waktu sore hingga malam hari!jawab ayah”
‘’benar saja!ungkap Iqra”
‘’ayah sudah menasehati nenek?tanya Ibu”
‘’sudah bu, ayah sudah menasehati nenek secara halus bahwa yang ia lakukan tidak sesuai dengan tuntutan agama dan mengarah kepada syirik yang merupakan dosa besar!jawab ayah”
‘’lalu bagaimana tanggapan nenek yah?tanya Iqra’”
‘’pada mulanya nenek tidak mengetahui perbuatan tersebut mengarah kepada syirik, kemudian mendengar penjelasan ayah,  ia hanya terdiam, mudah-mudahan Allah memberikan hidayahNya!jawab ayah”
‘’ya, ayah hal terpenting kita sudah menasehatinya, mengenai hasilnya hanya Allah yang mampu memberikan hidayahnya!ujar ibu”
‘’kita lihat saja yah, bu mudah-mudahan nenek terbuka hatinya untuk meninggal kan perbuatan demikian!ujar Iqra”

Delapan bulan telah berlalu pasca kedatangan ayah di kedai tua, ketika asyik berbincang-bincang setelah sholat Isya antara ayah ibu dan Iqra’, alangkah terkejutnya mereka mendengar suara dari arah mesjid;
 ‘’Inna lillahi wainna lillahi roji’un telah berpulang kerahmatullah saudari Halijah binti Rahmad, jenazah akan disemayamkan esok pagi dan diharapkan kepada warga untuk bersama-sama untuk mengikuti proses pemakaman!ujar seorang yang telah  memberikan pemberitahuan mengenai seorang yang telah meninggal dunia melalui pengeras suara mesjid”
‘’Inna Lillahi Roji’un, semoga Allah merahmati Nya, di ampunkan dosanya, di lapang kuburnya, diterangi kuburnya!ungkap ayah”
‘’siapa yah yang telah meninggal ?ayah mengenalinya?tanya Iqra”
“halijah binti Rahmad tak lain adalah nenek pemilik kedai nak, semoga ia telah bertobat nak!balas ayah”
‘’amin!jawab Iqra’ dan ibu serentak”

setelah meninggal, warung milik nenek pun tutup untuk selama-lamanya, tidak ada anak-anaknya yang ingin melanjutkan profesi sang ibu. Hingga akhirnya kedai tua itu benar-benar hanya tinggal cerita….



0 komentar:

Posting Komentar