Senin, 14 Januari 2013

Hikmah Kisah Pengembala dan Biri-biri




Oleh : M. Jamil
Alkisah  terdapat seorang Pengembala biri-biri  di mana ia senantiasa menjaga, merawat dan memberi makan  beberapa ekor biri-biri nya  dengan melepaskannya ke sebuah padang rerumputan di dekat bukit. Dari hari ke hari pekerjaan nya senantiasa ia lakukan tanpa keluh kesah, entah kenapa siang itu ia merasa jenuh dengan rutinitas yang ia lakukan. Seolah mendapat obat pelepas kejenuhan ia pun berdiri dan melangkahkan kakinya kearah bukit dan berteriak ‘’tolong, tolong, tolong ada srigala yang akan memangsa biri-biri saya”. Mendengar teriakan sang pengembala dari arah bukit, para petani bergegas dengan berlari-lari menuju tempat si pengembala. Setiba di tempat pengembala, Petani bertanya kepada si pengembala tentang keberadaan srigala yang akan memangsa biri-birinya.
Walhasil si pengembala tertawa terbahak-terbahak, membuat para petani heran melihat tingkah si pengembala, dan akhirnya si pengembala menyatakan bahwa ia hanya bergurau saja. Para petani terlihat kesal dengan perbuatan si pengembala dan pergi  meninggalkan pengembala, kembali ke rutinitas pekerjaannya. Setelah membohongi para petani, si Pengembala tidak merasa bersalah justru ia merasa menemukan sebuah kepuasaan tersendiri melakukan hal tersebut, bahkan ia mengulangi lagi perbuataannya dengan teriakan serupa. Para petani dengan itikad baik kembali bergegas menuju tempat si Pengembala,dan menanyakan hal yang serupa tentang keberadaan srigala. Pengembala menjawab dengan tertawa hingga berbaring-baring di padang rumput memegang perutnya dan menyatakan perutnya sakit karena tertawa. Melihat perbuatan si pengembala, salah seorang petani dengan kesal menyatakan kepada pengembala, jika terjadi sesuatu kepada si pengembala dan meminta pertolongannya maka mereka tidak akan datang untuk membantu. Para petani pergi meninggalkan pengembala  dan kembali ke sawah mereka.
Tak selang beberapa lama,  bohongan si pengembala benar-benar terjadi, segerombolan srigala yang sedang kelaparan datang dan dengan sekejap melahap habis biri-biri yang ia gembalakan. Pengembala pun tak mampu menghalau dan menghentikan srigala memangsa biri-birinya, ia pun berteriak kembali  minta tolong kepada para petani, sayang para petani sudah kehilangan kepercayaan terhadap si pengembala dan mengangapnya sebuah bohongan gurauan sebuah tindakan yang sama ia lakukan. Hingga akhirnya tinggalah si pengembala menangisi kehilangan biri-birinya.
Oleh karena itu Islam melarang dan mendidik umatnya untuk berkata jujur dan tidak berbohong walaupun hanya bersifat candaan ataupun gurauan. Dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda:
Dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya Radiyallahu’anhum, ia berkata: Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda: “Sungguh celaka orang yang berbicara lalu ia berbohong untuk sekadar membuat orang-orang tertawa. Sungguh celaka dia, kemudian sungguh celaka dia.” (Diriwayatkan oleh  tiga Imam: Abu Dawud, Nasa’i, dan at Tarmizi dan sanadnya kuat).
Dalam sebuah hadist lain Rasullullah melarang berbohong atas nama guruan karena berhubungan dengan kesempurnaan iman seorang;
Rasullullah bersabda : Tidak sempurna iman seseorang sampai ia meninggalkan kebohongan ketika bercanda dan meninggalkan perdebatan meski ia pada posisi yang benar (HR. Ahmad, At-Thabrani);
Berkata bohong memiliki esensi sosial maupun teologi, esensi sosial yaitu menghilangkan kepercayaan dari individu maupun masyarakat.  Jika sebuah kepercayaan seorang individu terhadap individu lain maupun masyarakat telah hilang di perlukan waktu yang cukup lama untuk memperolehnya kembali. esensi Teologi berkaitan dengan kualitas keimanan bagi mereka yang menghindari berkata bohong. Semoga Allah memberikan kekuatan dan hikmahnya kepada kita Allahuma amin

0 komentar:

Poskan Komentar