Jumat, 09 November 2012

BARACK HUSEIN OBAMA ANTARA SKEPTIS DAN HARAPAN





Oleh: M. Jamil
mengganti kata perang dengan kata Perdamaian bagi negara-negara di dunia dan khususnya di Timur Tengah, mengganti kata terjajah menjadi Mardeka bagi palestina, menganti kata negara musuh  menjadi sahabat-Iran, suriah Korea Utara, Kuba

Empat tahun yang lalu pada tanggal 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009 Israel secara membabi buta menggunakan senjata berat dari tank hingga penggunaan Fosfor putih menyerang wilayah gaza dengan dalih aksi balasan terhadap serangan roket Hamas. Dunia seakan diam dengan sebuah agresi biadab terhadap penduduk palestina, otoritas dari PBB hingga Liga Arab pun dipertanyakan untuk mengakhiri Pembantaian dengan jumlah korban di pihak palestina mencapai 1.300 jiwa.
Pada saat itu pula Barack Obama terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat dalam pemilu presiden yang diadakan pada tanggal 4 November 2008 dan akan dilantik secara resmi pada tanggal 20 Januari 2009. Mata umat muslim tertuju, menaruh harapan baru terhadap Barack Obama yang note bene memiliki hubungan sangat dekat dengan Dunia Islam.  Harapan tersebut kandas ketika Barack Obama menyatakan mendukung tindakan Israel melakukan pembantaian di jalur Gaza,  bukan hanya itu “Bila petaka datang, saya berdiri di belakang Israel” ujar  obama saat berpidato Pidato Obama Konferensi AIPAC- kelompok lobi Zionis- di Washington.
Bukan rahasia siapapun yang akan menjadi Presiden Amerika serikat dan semua cabang eksekutif maupun legislative harus mendapat dukungan dari negeri Zionis, terutama dari segi  pendanaan. Besarnya biaya politik di Amerika menjadi celah bagi AIPAC untuk mendanai atas nama pribadi maupun Partai Politik. Jutaan dollar uang dari AIPAC mengalir ke Partai Demokrat maupun Republik, sehingga menjadikan kebanyakan para politisi dan eksekutif  Negara Adi daya tersebut berasal dari rahim yang di nafkahi oleh AIPAC. Tak heran mereka kemudian hari menghasilkan kebijakan yang berkiblat kearah kepentingan Zionis Israel, "zionis first"
Obama tak ubah dari pada pendahulunya bahkan mencapai prestasi yang sangat baik terhadap rezim Zionis Israel.  Salah satunya meningkatkan bantuan militer kepada Zionis Isrel dan pengalokasian sejumlah uang untuk pembiayaan sisitem pertahanan udara Iron Drome untuk mencegah serangan roket dari pihak luar. Begitu pula dengan perdamaian Timur Tengah Palestina masih menjadi bangsa yang terjajah. Begitu pula dengan wilayah timur tengah lainnya seperti Suriah, Obama gagal menciptakan perdamaian dan demokrasi malahan memperkeruh situasi dengan mempersenjatai Pemberontak Suriah serta memberi bantuan pendanaan.
Negeri yang menyatakan demokrasinya perlu ditiru justru memberi contoh buruk melakukan delegitimasi terhadap suatu kekuasan yang sah dengan teror. Lain pula halnya dengan Iran yang dicurigai membuat senjata pemusnah massal, dalam berbagai statement  Obama memilih pendekatan diplomatis dan sangsi walaupun mengeyampingkan penggunaan militer namun pilihan tersebut tetap di atas meja.  Lobi–lobi zionis Israel sangat gencar mengenjet Obama untuk segera menyerang fasilitas nuklir Iran. Dampak serangan terhadap stabilitas Timur Tengah dan biaya yang sangat tinggi serta keamanan pasukan maupun 33 pangkalan militer yang menyebar di seluruh wilayah negara timur tengah, memaksa Obama masih menggunakan akal sehat untuk tidak menyerang Iran. namun sayang Obama kembali mengecewakan ketika mengatakan akan menggunakan senjata nuklir hanya kepada dua negara yaitu Iran dan Korea Utara yang berujung pada protes Iran ke Perserikatan bangsa-bangsa. Sangat di sayangkan sebuah statement yang sangat bertentangan dengan sebuah kata yaitu Perdamaian.
Kali ini Barack Obama terpilih kembali sebagai Presiden Amerika Serikat. Seperti telah diduga oleh banyak pihak sebelumnya Obama akan berhasil mengalahkan pesaing utamanya dari partai Republik, Mitt Romney. Dengan sangat cepat Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu memberikan ucapan selamat kepada Barack Obama karena terpilih kembali sebagai presiden Amerika dan menyatakan “hubungan antara kedua negara akan lebih kuat dari sebelumnya”. Benyamin Netanyahu tanpa malu-malu mengeluarkan statement demikian walaupun sebelumnya ia mendukung kuat Mitt Romney sebagai Presiden. Apakah hubungan antara kedua negara- Amerika dan Israel akan lebih kuat dari sebelumnya sesuai dengan statement dari Benyamin Netanyahu pasca terpilihnya kembali Barack Obama? saya hampir yakin terhadap ungkapan Benyamin Netayahu jika Barack Obama tidak mengubah sikap dan mentalitasnya menghadapi zionis Israel. Sehingga mengganti kata perang dengan kata Perdamaian bagi negara-negara di dunia dan khususnya di Timur Tengah, mengganti kata terjajah menjadi Mardeka bagi palestina, menganti kata negara musuh  menjadi sahabat-Iran, suriah Korea Utara, Kuba

0 komentar:

Posting Komentar