Rabu, 07 Agustus 2013

MELEPAS BELENGGU DENGAN TAQWA (IDUL FITRI 1434 H)






Oleh : M. Jamil
Alangkah indah suara merdu kumandang takbir tahlil dan tahmid di berbagai mesjid, pertanda telah selesainya umat muslim menempa diri dengan berpuasa hampir sebulan penuh di bulan Ramadhan. Semoga saja kumandang takbir tahlil dan tahmid tidak hanya sebatas symbol maupun kata namun ia bagi kita semua dapat tampil  sebagai pernyataan kemenangan melepas belenggu. Melepas belenggu dari berbagai perbuatan maupun kebiasaan-kebiasaan yang di balut oleh hawa nafsu. perbuatan maupun kebiasaan-kebiasaan yang di balut oleh hawa nafsu hanya mampu dikalahkan dengan “reproses pembentukan” dari kebiasaan-kebiasaan yang di balut oleh hawa nafsu menuju kebiasaan sesuai tuntunan Al Quran maupun Sunnah Rasul. Reproses ini harus didukung oleh komitmen yang bertalian dengan pengulangan dan pelatihan. Pengulangan dan pelatihan inilah merupakan jawaban dari puasa sebulan penuh bukan hanya beberapa hari saja, selain itu ‘’pengulangan dan pelatihan’’ tentunya memiliki tuntunan dan tuntutan dalam rangka proses penyempurnaan dari tujuannya yaitu menjadi orang yang bertaqwa. Allah SWT sangat mengistimewakan proses pembentukan kebiasaan menuju orang bertaqwa ini  hingga Allah SWT (berdasarkan riwayat Hadist shahih*) mengikat para setan yang sering menggoda manusia.
 Dengan demikian taqwa adalah sebuah proses yang salah satunya dapat di tempuh oleh orang yang beriman dengan menjalankaan puasa di bulan Ramadhan. Hal ini sesuai dengan kandungan Surah Al Baqarah ayat 183  yang secara tegas menyebutkan esensi dari Puasa adalah menjadikan manusia beriman menjadi orang yang bertaqwa. mengenai kata Taqwa Sebagian ulama mengartikan kata Taqwa memiliki arti “menjaga (melindungi) dari bencana atau sesuatu yang menyakitkan”. Selaras dengan arti di atas sahabat Rasulullah, Umar bin Khatab pernah menyampaikan definisi Taqwa yang sama saat berdialog dengan Ubay bin Ka’ab;
Umar bin Khatab bertanya kepada Ubay bin Ka’ab; “pernah kah engkau berjalan di atas jalan yang penuh duri?”, Ubay bin Ka’ab, menjawab, “ ya pernah”. “Apa yang engkau lakukan?”, tanya umar. “aku sangat berhati-hati”, jawab Ubay bin Ka’ab. “demikian itulah taqwa”, ucap Umar bin Khatab.
Quraish Shihab dalam buku ‘’secercah cahaya Ilahi: hidup bersama Al Qur’an“, menyimpulkan tiga sifat pokok orang bertaqwa yaitu Iman, pengamalan syariat dan Ahlak. Iman memerlukan pondasi keyakinan dan pengetahuan terkait dalam enam rukun Iman. Pengalaman syariat terkait dengan penerapan pengetahuan yang bersumber pada Al Quran, Hadist dan Sunnah Rasul terkait dengan hubungan dengan Allah, maupun hubungan antara sesama dan alam. Sedangkan Ahlak menyangkut tentang spsesifikasi hubungan antara sesama manusia, nah saling berjabat tangan dan saling memaafkan di Hari Raya Idul Fitri (tentu nya juga kapanpun dan di manapun) menambah kesempurnaan dari ketaqwaan seseorang.
Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, perkenankanlah do’a kami ini Ya Allah, pertemukanlah kami sekeluarga kembali kepada bulan ramadhan berilah kami kembali kesempatan untuk memperbaiki dan meningkatkan amalan kami kembali di bulan Ramadhan tahun depan Amin Amin Ya Robbal alamin.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1434 H MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN
MUHAMMAD JAMIL DAN KELUARGA TERCINTA

0 komentar:

Posting Komentar