Selasa, 08 Mei 2012

(Jangan) Takut Hantu


Ilustrasi
  Oleh : M. Jamil  
 Coel   melaju dijalan raya dengan motor andalannya merk Vega R dari rumah kontrakan  menuju kantor tempat ia bekerja. Mengenakan celana pendek dengan kaos putih, tak ketinggalan tas laptop merek acer bak teman akrab yang senantiasa melakat kuat di bahu coel. Di sela-sela perjalanan dalam  otak coel telah tertulis daftar menu pekerjaan yang akan diselasaikan malam ini. Maklum beberapa hari lagi tim pengawas dari pusat akan tiba  dan tentunya  coel ingin menjaga reputasinya sebagai salah satu juru kunci pemegang keuangan kantor.
Setelah tiba dipelataran kantor, tubuh coel melenggong sambil melangkah kecil berperlahan melangkah ke pintu utama halaman kantor berupa ruko dua lantai berukuran kira-kira 10x20 m. Coel bergegas mengenggam gagang pintu dan memutar 180 derajat gagang tersebut dengan maksud ingin membuka pintu. Apa daya ternyata pintu terkunci, entah penjaga malam yang sudah tiba dan mengunci dari dalam kantor atau mungkin ia belum tiba untuk menunaikan tugasnya, ujar coel dalam hati. Tiba-tiba Coel merasa mendengar sebuah percakapan seseorang dari dalam kantor. Dugaannya  kuat penjaga malam telah tiba dan sedang berada di dalam kantor. Coel pun ingin memastikan, dua buah bola matanya berusaha menyelinap menembus tirai dibalik jendala kaca. Walhasil matanya berhasil melirik kedalam dari jendela kaca di sela-sela celah kecil tabir biru namun mata tajam coel tak mendapatkan ada satupun mahluk adam dari dalam ruangan kantor.
ia mengeluarkan Handphone dari sakunya dan menghubungi nomor penjaga malam.  Setelah menghubungi penjaga malam  alangkah terkejutnya coel ketika mengetahui keberadaan penjaga malam sedang di sebuah pasar. Bulu kuduknya merinding, keringat jagung tak dapat di hindari, ia berlari kecil meninggalkan pintu utama kantor semabari melihat ke kanan kiri dan seberang jalan kan
Coel semakin penasaran, rasa ingin tahunya seolah ingin menyaingi Socrates, Plato bahkan Aristoteles mengenai kebenaran Absolut. Namun ia bukanlah seorang Socrates, Plato bahkan Aristoteles yang mengedepankan pemikiran secara totalitas. Coel mungkin seorang korban dari perfilman di negeri ini yang  mengusung tema hantu, dari hantu perawan, hantu datang bulan hantu beranak dari kubur dan hantu lain-lain  yang ironisnya mampu menghilangkan nyawa manusia.
Tak selang berapa lama terlihat oleh coel di sebuah warung tak jauh dari seberang jalan seorang rekan kantornya-Satria- yang sedang mengobrol dengan pemilik warung-pak dziki. Langkah kakinya cepat menuju warung. Dengan nafas tersendat-sendat ia tiba diwarung dan duduk disamping satria dan tepat menghadap pak dizki.
 “Ada apa coel?tanya Satria”
“Aneh bang, kamek dengar ada percakapan dari dalam kantor bang?Abang sudah lama di sini bang? Lanjut coel”
“hmmm,hahhaha itu mungkin suara dari sebelah ruko coel!ya, baru jak sampai 15 menit lalu, penjaga malam belum datang, abang pun ada pekerjaan yang harus di selesaikan dan  malam ini dan harus selesai”
‘’iye bang, abang tak cayak-percaya-!
satria tersenyum mendengar celotehan coel.
Melihat ketakutan Coel, pak dizki pemilik warung menghela coel. Pak dizki duduk dengan tenang dikursi malasnya, perawakannya cukup besar dengan mengenakan baju ‘’koko’’ panjang  ukuran  triple Xl warna coklat, di tambah aksesoris kopiah haji hitam tepat bertengger di kepalanya. Kalau di lihat dari jarak jauh  pak dizki bak terlihat seperti para Mullah di Iran. Tepat di depan meja terlihat sebuah kitab, entah kitab Al Hikam karya Ibnu Atailah atau kitab “kuning’ tanpa harakat. Ia terlihat ‘’bising melihat gerak-gerik dan celoteh coel tentang mahluk asral-jin dkk- sehingga memaksa ia untuk menghardik
Kamu agama apa?tanya pak dizki dengan nada keras”
“Iiiislam pak!balas coel, gugup dan terkejut”
“Kamu sholat?”
“Sholat lah pak!tangkis coel”
‘’Kalau begitu mengapa engkau takut?”
“Iyelah pak”, tadak ade orang suare yak ade!ungkap coel wajar”
“Seorang yang beragama tidak perlu takut, ia hanya takut kepada Allah, jin memang ada AlQur’an menyebutkan keberadaan mereka dan tujuan keberadaan mereka bukan untuk ditakuti!!!pamungkas pak dizki’’
Satria rekan sejawat coel mencoba menasehati coel dengan mengatakan mungkin ia sedang berhalusinasi walaupun kejadian tersebut benar yang jelas kita jangan takut terhadap hantu sembari membenarkan wasiat pak dizki, satria berkata pada coel;
''oh iye Coel ada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi yang berbunyi "barang siapa yang takut kepada Allah maka Allah menjadikan segala sesuatu takut kepadanya. Barang siapa yang tidak takut kepada Allah maka Allah menjadikannya takut dengan segala sesuatu"
" oleh karena itu coel-lanjut Satria- kita alangkah indah jika menempatkan rasa  takut hanya kepada Allah bahkan Allah menjanjikan siapa yang takut kepadanya terhindar dari siksa neraka seperti bunyi sebuah hadist yang menyatakan ''dua mata yang diharamkan api neraka yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang menjaga  serta mengawasi Islam dan umat nya dari (gangguan) kaum kafir (HR. Bukhari)"
pak dizki dan coel sangat menikmati kalimat-kalimat hadist yang di sampaikan oleh Satria dan coel mengirimkan sebuah simbol dengan mengangguk-angguk, rasa takutnya sedikit terkikis terkena siraman hadist-hadist yang dilontarkan satria.
Petugas malam pun tiba dan mereka berdua meninggalkan jejak di warung pak dizki kembali  menuju ke kantor mengerjakan sesuatu yang telah direncanakan.

1 komentar:

  1. inspiratif bro...
    jadi semangat nulis walaupun waktu semakin sempit dijepit oleh "pilkadal".. mudah2an ini bukan alasan saye untuk terus berkaryae. oh ye. saye suke alur ceritenye

    BalasHapus