Kamis, 25 April 2013

Menanti Senja di Damaskus




Oleh: M. Jamil
Posisi Bashar Al Assad
Suriah masih membara, upaya untuk memadamkan api di Suriah masih belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Pertemuan segitiga  antara utusan khusus PBB, Lakhdar Brahmi, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov dan Wakil Menteri Luar Negeri Amerika William Burns secara tertutup di Jenewa berakhir tanpa solusi. Kenapa demikian? Mereka ( baik kubu barat dan Rusia) sepakat untuk tidak sepakat mengenai Posisi Assad, yang harus mundur sebagai Presiden Suriah. Bagi barat dan oposisi, Presiden Bashar Assad haru terlebih dahulu mundur sebagai prasyarat untuk dialog perdamaian di Suriah lain hal nya dengan Rusia masih tetap mempertahankan Assad.
 Thalib Ibrahim analis politik dari Damaskus berpendapat  jika ada pembicaraan menempatkan prasyarat untuk Presiden Assad mundur, maka akan meletakkan negara dalam krisis nyata. Perang sekterian di prediksi akan semakin memuncak, kaum alawit, kelompok pro pemerintah dan tentara loyalis Assad akan berbalik mengorganisir diri menjadi kelompok baru melawan oposisi dan tidak menutup kemungkinan eskalasi konflik akan menjalar ke negara tetangga Suriah. Akademisi dan Seorang analis politik  Iran, DR. Salami Ismail berpendapat Suriah tanpa Bashar Assad akan berarti negara di tangan Salafi Jihadis, yang pasti akan mengubah negara itu menjadi kuburan bagi Alawi dan Sunni moderat dan tempat berkembang biak bagi terorisme dan ekstremisme di wilayah tersebut. Apa yang di prediksi oleh DR. Salami Ismail menjadi nyata jika terjadinya pergesaran tingkat kekuatan apa yang di sebutnya Jihadis Salafi  menjadi  kekuatan militer tangguh di bandingkan  kelompok Alawi dan Sunni moderat. Iran sebagai negara syiah terbesar tidak akan tinggal diam melihat situasi seperti ini, dan kemungkinan besar baik secara terang-terangan maupun diam-diam akan mendukung gerakan Alawi dan gerakan anti oposisi dengan kekuatan penuh, jika demikian halnya kata perdamaian akan sulit terwujud. Mengenai tempat berkembang biak bagi terorisme dan ekstremisme di wilayah Suriah, Al-Qaeda beserta anasir-anasirnya memiliki impian baru membentuk sebuah ‘’rumah nasional” dengan ideology islam radikal ditengah keputusasaan mereka akibat kegagalan di berbagai negara islam.
Seolah ingin menegaskan kembali  komitmennya untuk tidak akan mundur sebagai seorang Presiden Suriah,  Bashar Al Assad kembali tampil ke publik pada tanggal 6 januari 2013 di gedung Opera Damaskus.  Berbeda dengan pidato sebelumnya, Bashar Asssad tampak lebih percaya diri, ia berpidato lebih dari  satu jam dengan di belakangnya terpampang gambar besar  sebuah bendera Suriah dalam sebuah layar  elektronik yang di penuhi wajah-wajah korban yang meninggal, hal tersebut mengibaratkan mereka yang telah meninggal sebagai martir dan korban dari kelompok pemberontak dengan tujuan membangkit semangat rakyat untuk membela negara.  Bashar Al Assad  mengajukan solusi untuk suriah yang pertama solusi Politik, yang kedua Memerangi terorsime dan yang ketiga  solusi Sosial.
Solusi Politik atau dialog  menurut Bashar Assad hanya di tujukan bagi mereka yang tidak menjual tanah suriah kepada negara lain dan boneka barat,  dengan demikian Assad menempatkan kelompok SNC dan anasir-anasir yang tergabung di dalamnya bukan ‘’teman’’ yang dapat di ajak untuk berdialog. Bashar Assad sendiri menyebut para pemberontak sebagai teroris dan musuh negara sehingga solusi kedua menjadi pilihan bagi Assad. Untuk memulihkan keamanan dan stabilitas, Bashar Assad mengemukakan solusi politik dengan tiga tahap diantaranya
Tahap Pertama;
1.  Menyerukan kepada negara-negara lain untuk menghentikan dukungan persenjataan dan pendanaan serta perlindungan  kepada kelompok bersenjata dan bersamaan dengan itu kelompok-kelompok bersenjata menghentikan aksi teror mereka masalah ini akan menjamin keamanan proses kepulangan para pengungsi ke tempat tinggal mereka.  Setelah itu operasi anasir teroris dan militer Suriah dihentikan namun pasukan keamanan tetap dapat bertindak jika terjadi pelanggaran terhadap keamanan negara, warga, sarana publik dan insfrastruktur atau segala bentuk pelanggaran lainnya.
2.   Mewujudkan mekanisme khusus untuk menjamin komitmen semua pihak pada poin pertama khususnya dalam masalah kontrol wilayah perbatasan.
3.   Pemerintah berkuasa memulai kontak dengan seluruh partai dan delegasi masyarakat untuk berunding secara bebas guna melaksanakan konferensi dialog nasional yang melibatkan seluruh pihak di dalam negeri dan luar negeri yang menginginkan solusi krisis Suriah.
Tahap kedua;
1.     Pemerintah berkuasa mengumumkan konferensi dialog nasional komprehensif untuk mencapai sebuah piagam nasional berlandaskan pada kedaulatan Suriah dan kesatuan seluruh wilayahnya serta penentangan terhadap campur tangan pihak asing dan perlawanan terhadap segala bentuk terorisme dan kekerasan. Piagam tersebut akan menentukan jalur politik Suriah dan menetapkan program untuk sistem peradilan, hukum, garis besar politik dan ekonomi, serta undang-undang baru terkait partai-partai, pemilu, dan lain-lain.
2.         Piagam nasional tersebut harus direferendum.
3.      Dibentuk sebuah pemerintahan komprehensif yang melibatkan perwakilan dari seluruh kelompok masyarakat dan bertanggung jawab melaksanakan poin-poin dalam piagam tersebut.
4.  Undang-undang referendum disusun dan setelah ditetapkan, pemerintah bertanggung jawab menggelar pemilu parlemen baru sesuai dengan undang-undang baru yang telah disepekati.  Sebelum segala hal yang bersangkutan dengan UUD harus disebutkan kata ‘jika', yakni jika masalah tersebut telah disepakati dalam konferensi dialog nasional.
Tahap Ketiga;
1.         Dibentuk pemerintahan baru sesuai dengan UUD yang ada.
2.        Digelar konferensi rekonsiliasi nasional dan para oknum yang tertanggap dalam berbagai insiden diampuni sesuai dengan hak-hak sipil mereka.
3.     Rekonstruksi seluruh infrastruktur dimulai dan kerugian yang diderita warga akibat instabilitas harus diganti."
Usulan Bashar Al Assad terkait penangan krisis di Suriah di tolak mentah-mentah dan menuai kecaman oleh Amerika, Sekutu dan Oposisi. Departemen luar negeri AS mengatakan rencana perdamaian yang disampaikan Assad "menyimpang dari kenyataan", dan menyebutnya sebagai "upaya rezim untuk mempertahankan kekuasaan. Berbeda dengan sekutu utama Suriah, Rusia dan Iran dengan cepat mendukung usulan Bashar al Assad. Their Meysan mengibaratkan pidato Bashar Assad, seperti memukul tiga sasaran dengan sebuah batu   yang pertama  menegaskan kembali kedaulatan atas rakyatnya  hal yang di sangkal  oleh Barat dan monarki Teluk, yang kedua Bashar Al Assad  secara implisit mengingat bahwa ia adalah satu-satunya pemimpin yang memiliki legitimasi melalui kotak suara, dan ia mengguncang agenda.
Barat (Amerika serikat dan Sekutu)  menjauh dari proses politik dan demokrasi dengan mengadakan pemilu atau sebuah referendum maupun dialog Nasional (seperti yang di tawarkan Bashar Al Assad) yang diawasi olehh PBB mengenai masa depan Suriah. Bukankah sebuah mekanisme yang mudah untuk melengserkan Bashar Al Assad mengingat secara populasi di Suriah jumlah pengikut sunni jauh lebih besar dari pada pengikut Alawiyah (sekte Bashar al Assad)  yang hanya 12 persen. Salah satu kekuatan Bashar Al Assad adalah dukungan dari rakyatnya, tidak mungkin ia mampu bertahan sekuat apa pun Tentara yang ia miliki dan Persenjataan Pemusnah Massal yang konon setara dengan kekuatan nuklir Israel. Reuters pernah mengutip perkataan oposisi dari seseorang komandan di Tentara Pembebasan Suriah (FSA) bahwa Aleppo memiliki 70 persen dukungan bagi rezim Assad.
Barat memilih jalan lain, sebuah jalan mengikuti perintah lobi zionis Israel untuk menjinakkan Suriah dari seorang pemimpin yang membahayakan keamanan Israel. Tumbangnya rezim Bashar Al Assad setidaknya melemahkan poros perlawanan Iran dan Hizbullah maupun Hamas terhadap Israel. Dengan bantuan persenjataan dan pelatihan dari  Suriah, Israel menjadi “macan ompong”, ketika berhadapan dengan Hizbulllah dan Hamas. 
Atas nama Arab spring barat yang didukung oleh Turki, Qatar, Arab Saudi telah menyusupi suriah dengan gerombolan pemberontak yang terdiri dari tentara yang membelot yang menamai diri mereka dengan istilah Tentara Pembebasan Suriah (FSA) dan anasir-anasir  Al Qaeda seperti Front Nusra,
sebuah jalan walaupun berkali-kali menolak melakukan intervensi militer di Suriah dan begitu pula diikuti dengan NATO, sesungguhnya perang sudah di mulai dari perang menggunakan peluru dengan mempersenjatai dan melatih pemberontak, perang propaganda melalui media dan perang ekonomi melalui penjatuhan sangsi ekonomi oleh barat untuk Suriah. Amerika Serikat mengulangi kesalahannya di masa lampau menggunakan trik kotor untuk menggulingkan sebuah pemerintahan yang sah.  Bagi Amerika, sebuah negara yang baik adalah sebuah negara yang pro Amerika dan Israel jika tidak, negara tersebut akan mendapatkan julukan ‘’axis of evil’’ seperti gelar yang telah diberikan kepada Irak, Korea Utara dan Iran
Selama Assad memiliki dua sayap kekuatan kekuatan internal (pendukung yang solid baik sipil maupun angkatan bersenjata Suriah) dan eksternal (dukungan Rusia , China dan Iran serta Hizbullah baik diplomasi maupun Militer), Assad tetap terbang dan kokoh, serta percaya diri menggempur lawan-lawanya.
  MENANTI SENJA DI DAMASKUS  (ANTARA SENJATA DAN DIPLOMASI)
Perang masih berkecamuk antara pihak oposisi maupun militer Suriah yang di dukung kuat oleh Iran dan Hizbullah. Militer Suriah mengalami kemajuan signifikan merebut berbagai wilayah yang semula di kuasai Pemberontak. Pierre Khalaf peneliti senior Arab and international Center of strategic studies menyebutkan kemajuan militer Suriah di Idleb, Dara dan Homs. Harian Al manar (19/4) melansir 4.000 pemberontak tewas dan ribuan lainya terluka dalam waktu tiga minggu. Melihat keberhasilan militer Suriah tak ayal seorang  blogger menulis dengan nada sangat yakin ‘’Kemenangan Syria telah tiba”.  Masuknya hizbullah dalam pertempuran di Suriah memberikan kekuatan tersendiri bagi militer Suriah dan membuat para pemberontak semakin tidak percaya diri. Pada mulanya Oposisi mengancam akan melakukan perlawanan bersenjata kepada Hizbullah kemudian merucut menjadi meminta Hizbullah secara sukarela menarik diri dari konflik Suriah dan mendesak pemerintah Libanon untuk mengontrol wilayah perbatasan terkait Hizbullah.
Pukulan telak kembali mengenai para pemberontak berkat kerjasama yang baik antara serangan darat Hizbullah dan serangan Udara Militer Suriah menurut Rami Abdel Rahman dari Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia,  desa di qusayr dekat perbatasan Libanon yang telah setahun di kuasai pemberontak kini telah berhasil direbut militer Suriah. Jatuhnya  desa dekat perbatasan dengan libanon oleh Militer Suriah memberi keuntungan bagi militer Suriah untuk mengontrol salah satu pintu masuk pemberontak. Harian Israel, Haretz menyebut dengan berhasilnya militer Suriah merebut perbatasan libanon memperkuat kepentingan strategis Bashar al Assad karena menghubungkan Damaskus dengan kantong pantai Mediterania yang merupakan jantung dari  sekte Alawit.  Menanggapi kemajuan militer Suriah,  Presiden Suriah, Bashar Al Assad memberi pernyataan (22/4) Free Syrian Army (FSA) telah berakhir dan Damaskus saat ini tengah berperang melawan anasir kelompok teroris al-Qaeda.
Sejauh ini menanti senja di Damaskus belum dapat di lihat dengan kacamata diplomasi dan perdamaian. Liga Arab sebagai wadah pemersatu negara Arab telah kehilangan kredibilitas dengan mengambil langkah destruktif dengan memberikan izin untuk mempersenjatai dan memberikan kursi keterwakilan Suriah kepada pemberontak. Terlalu banyak kepentingan bermain di Suriah dari geopolitik, konspirasi zionis-AS dan sekutu, sekterian hingga panggilan suci. Sebaliknya senja di Damaskus masih menggunakan kacamata “senjata dan kekerasan”. Jika kemenangan di pihak pemberontak besar kemungkinan sejarah Afganistan akan berulang kepada Suriah, tidak hanya itu perperangan panjang dan melelahkan antar sekterian kemungkinan besar akan terjadi. Semangat kemenangan pemberontak di Suriah akan menjadi Gelombang besar yang akan menjalar keseantaro negara Timur Tengah. Sebaliknya kekalahan pemberontak akan berpengangruh pada terhambat atau mengecilnya pergerakan dan perkembangan gerakan ekstrimisme seperti Al-Qaeda di Timur Tengah. Pengamat timur tengah berpendapat kecil kemungkinan pemberontak berhasil mengalahkan Bashar Al Assad dari aspek kekuatan dan persenjataan militer. Pierre Khalaf menulis “Cepat atau lambat, Washington akan jatuh dan Assad akan memberitakan kemenangan dalam perang paling ganas yang pernah diluncurkan terhadap negara dalam sejarah modern”.
Senja di Damaskus dengan solusi politik itu yang kita tunggu, hentikan kekerasan dan pembunuhan, kita (umat muslim) sesungguhnya merupakan pihak yang sangat-sangat di rugikan, mereka (zionis- AS dan Sekutu) tertawa dan senang melihat pertikaian ini adalah pihak yang di untungkan.

0 komentar:

Posting Komentar