Minggu, 27 Juli 2014

Meruntuhkan Arogansi Zionis Israel



oleh : M. Jamil
Tulisan ini saya buat setelah membaca komentar teman saya baru-baru ini di sebuah jarinngan sosial yang mengecam kebiadaban zionis Israel dan seolah membangkitkan kegelisahan lama saya sejak membaca sejarah berdirinya Israel, perang Arab-Israel 1948, hingga kebrutalan Zionis di penghujung 2008 hingga pengakuan PM Israel mengenai status Jarusalem.
Pada tanggal 23 Maret 2010 Perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan lantang mengatakan bahwa Jarusalem merupakan ibu kota negara Israel. oleh kerena itu Israel akan membangun 1600 pemukiman Yahudi di Jarusalem. Aksi lempar batu hingga melempar roket pun dilakukan oleh rakyat Palestina sebagai bentuk protes dari kebijakan pemerintahan negara Zionis. Tak ayal aksi perlawanan ditanggapi langsung secara berlebihan oleh Israel baik dengan menurunkan Jet-Jet tempur maupun serangan darat menembaki setiap tempat yang dianggap tempat penyimpanan senjata maupun persembunyian gerakan Perlawanan tanpa menghiraukan keselamatan warga sipil.
Amerika yang konon penjaga HAM hanya mampu diam seribu bahasa dan mengutuk dengan bahasa yang bersayap. Menlu AS Hillary Clinton hanya berkata ”Israel ganggu krediblitas AS”. BBC Indonesia melaporkan baru-baru ini perundingan diadakan antara Barack Obama presiden AS dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hasilnya adalah buntu. Bukan rahasia lagi cengkraman lobi Zionis begitu kuat di Negri paman Sam sehingga mampu menyetir kebijakan Pro Zionis.
Tentunya AIPAC lah yang mengorganisir. Di AS jumlah anggota Kongres Amerika dari Yahudi berjumlah 13 orang dari 101 total anggota Kongres Amerika. Padahal persentase Yahudi di sana di bawah 2%. Sementara di parlemen Amerika Yahudi memiliki perwakilan 30 orang “tulis harian era muslim”. Selain itu Zionis mampu membiayai setiap anggota Kongres maupun Parlemen untuk mencalonkan diri dengan syarat yang telah ditetapkan.
Saya tertegun membaca buku Salah seorang mantan anggota kongres Amerika Paul Findley dengan judul Diplomasi Munafik Zionis Israel yang menjabarkan hubungan mesra antara AS dan Israel menjawab semua omong kosong dengan fakta. Bahkan AS memberikan bantuan financial cuma-cuma kepada Israel hingga miliaran dollar pertahun. Selain itu yahudi hampir menguasai bisnis di AS bahkan dunia (Anton Ramadhan 2009). Belum lagi Zionis menguasai hampir semua media massa di Amerika, bahkan TV Aljazera Qatar, yang konon mampu menyangi BBC dengan jumlah 50 juta pemirsa terancam akan dibeli oleh konglomerat Israel yang pro PM Benjamin Netanyahu karena TV Al Jazera mengalami ganguan financial (baca harian mesir al Mesryoon edisi rabu 7/10).
Apa yang harus kita lakukan? Salah satu solusi nya yang pertama adalah Persatuan yang merupakan barang sangat mahal di Negara muslim dari perbedaan sekte hingga kepentingan pragmatis masih menjadi tembok penghalang pemersatu Negara Muslim. Alangkah tepat ungkapan Nabi agung Muhammad Saw “Berbagai bangsa akan mengerubuti kalian sebagaimana orang-orang rakus mengerubuti makanan”.  Seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada saat itu?” Rasul Saw menjawab, “Kalian pada saat itu bahkan berjumlah banyak. Akan tetapi, kalian seperti buih di lautan.” [HR. Abu Dawud & Ahmad].
Saya tidak dapat membayangkan sekaliber Taliban mampu bertahan selama 8 tahun dari serangan 40 negara dan mampu menawaskan ribuan pasukan NATO. Bahkan Menteri Pertahanan AS Robert Gates dan Kepala Staff Pasukan Gabungan AS Mike Mullen di hadapan Komite Militer  DPR AS mengaku kewalahan menghadapi Taliban (suaramedia.com11/08).
Belum lagi dengan Hizbullah yang memiliki integritas tinggi sehingga mampu menghancur Kapal Perang, tank Markava andalan Israel pada saat perang 33 hari, prestasi yang tidak pernah atau tidak mampu dilakukan oleh negara Arab pada saat perang Arab-Israel 1948. Tak salah ungkapan Imam Ali Khamenei Pemimpin Tertinggi Spritual Iran “Hizbullah mampu menertawakan Israel”. 
Tzipi Livni Menteri luar negri pada waktu itu mengeluarkan Statmen tak satu pun Negara di dunia ini yang mampu melucuti Hizbullah. Hal ini semakin menguatkan thesis saya jika persatuan itu terjadi akan menghasilkan kekuatan yang sangat diperhitungkan.
Kedua adalah penguasaan Teknologi, Francis Bacon dalam essaynya menyatakan siapa yang menguasai teknologi maka ia menguasai dunia. Kaum muslim pernah mencapai kejayaannya dibidang teknologi salah satu contoh pada abad ke 7 Jabir bin Hayyan dengan Kitab Kimya (orang pertama yang menggunakan istilah tersebut) dalam bahasa inggris The Book of the composition of alchemy mengeluarkan teori pemisahan unsur yang lebih mendahului John Dalton dan Kitab tersebut digunakan sebgai teks dieropa hingga abad ke 18 sejak setelah itu barulah eropa mengalami revolusi (Muhammad Razi : 2005) .
Belum lagi al Khwarizmi penemu angka Nol, Ibnu Sina (980-1037) dibidang kedokteran dengan kitab Qonun fi Al Tibs bahkan kopi pertama kali dibuat di Yaman pada sekitar abad ke-9. Pada awalnya kopi membantu kaum sufi tetap terjaga ibadah larut malam (inilah com 3/10).
Namun sayang memasuki abad ke 20 kaum muslim mengalami kemandegan dalam bidang teknologi. Penyebab yang paling popular adalah hancurnya salah satu perpustakaan di Bagdad akibat serangan bangsa Mongol.
Selain itu Saya berpendapat memasuki abad ke 19 adanya penyempitan makna dalam penggunaan kata ulama, Quraish Shihab dalam Buku Membumikan AlQur’an menjelaskan bahwa kata ulama pada saat ini hanya diartikan seorang yang menekuni disiplin ilmu dibidang Agama. Berbicara mengenai Kata Ulama tidak lepas dari surah Fathir ayat 28 : Sesungguhnya yang takut (Kasyyah) kepada Allah di antara hamba-hamba Nya hanyalah ulama.
 Quraish Shihab menyatakan mempelajari disiplin ilmu apapun selain Agama sepanjang menimbulkan Kasyyah atau rasa takut kepada Allah dapat dikategorikan Ulama. Tentunya implikasi penyempitan makna ulama berpengaruh terhadap iklim pengembangan Teknologi yang dianggap bukan domain yang mampu mendekatkan diri kepada Allah.
 Lebih lanjut Quraish shihab menyatakan dalam konteks ini Yaitu “secara Inspiratif Al Qur’an telah mendorong umat Islam untuk maju, terutama untuk menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan, cukup banyak ayat yang menyebutkan tentang Astronomi, Biologi, Fisika, Sejarah, Geografi dan sebagainya sebagai tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang harus diselidiki oleh manusia sejarah pun mencatat bahwa umat Islam berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan pada abad pertengahan karena dorongan AlQur’an”.
Namun kemandegan tersebut sedikit melegakan tak kala Prof Abdus Sallam Ilmuwan Muslim Pertama asal Pakistan pada tahun 1979 mendapatkan Penghargaan Nobel Fisika untuk sumbangan teori pada persatuan lemah dan interaksi elektromagnetik antara unsur dasar, termasuk, inter alia, perkiraan arus netral lemah (wikipedia.org).
 Juga Dr Abdul Qadeer llmuwan paling ditakuti AS dalam teknologi pembuatan senjata nuklir yang terkenal dengan sebutan bapak Nuklir Pakistan. Dr Abdul Qadeer hanya memerlukan enam tahun untuk membawa Pakistan ke peta nuklir dunia (Cyber Sabili.com).
Yang ketiga menimalisir produk Zionis yang merupakan salah satu sumber penghasilan untuk memperkuat cengkramannya atas dunia, dalam hal ini Adian Husaini berkomentar Perjuangan melawan hegemoni Yahudi dan kroninya adalah perjuangan panjang dan membutuhkan keseriusan, ilmu dan kesabaran “Sangatlah sulit dibayangkan, bagaimana kaum Muslim mau melawan Yahudi, sedangkan untuk air minum saja, umat Islam masih merasa nyaman mereguk air kemasan produk Yahudi.
Oleh karena itu saya sangat menyakini bahwa dengan persatuan kuat antar negara muslim dan penguasaan teknologi yang mampu menciptakan kemandirian serta meminimalisir Produk Yahudi sehingga sangatlah sulit bagi Zionis dengan dukungan AS untuk melakukan kesewenang-wenangan terhadap bangsa Palestina.

0 komentar:

Posting Komentar